Entah mengapa pagi ini aku sangat ingin
merawatnya. Ketika ia kembali diserang diare berkali-kali yang sangat hebat aku
sendiri yang membersihkan semuanya. Kemudian memandikannya dan mengganti
pakaiannya. Pagi itu aku minta Lia anak sulung kami yang masih duduk di kelas 5
SD untuk menjaga bundanya, sebelum kemudian aku tinggal berangkat kerja.
Siang pukul 11 Lia menelpon “Ayah, bunda
pingsan nafasnya cepet banget.” Aku kaget dan sangat khawatir. Selang 15 menit
Lia sms “bunda sekarang ada di ruang ICU”. Astaghfirullah haladziim… apa yang
terjadi pada istriku. Segera aku minta izin meninggalkan kantor. Di Rumah Sakit
aku dapati Lia menangis sesegukan tak berhenti. “bunda yah… tolongin bunda
yahh….!”
Kuhampiri istriku yang tergolek
taksadarkan diri. Perawat memasang semua peralatan pada tubuh istriku, entah
alat apa saja ini. Kuusap perlahan keningnya, dingin sekali. Tangan dan
kakinyapun sangat dingin. Hingga menjelang maghrib aku tak beranjak dari
sampingnya. Tak hentinya mulut ini memanjatkan doa. Sementara di luar ruang ICU
sudah banyak kerabat berdatangan.
Tekanan darahnya sangat rendah dibawah 70.
Dokter memberikan obat penguat tekanan darah dengan dosis tinggi. Tekanan
darahnya sempat naik namun masih dikisaran 75-80, sangat rendah. Berkali-kali
dokter menyuntikkan obat perangsang namun hasilnya tetap sama tak berubah.
Dokter memanggilku, perasaanku gelisah tak menentu, campur aduk antara cemas,
bimbang dan ketakutan yang amat sangat. Dugaanku benar Dokterpun menyerah.
Melihat kondisinya yang terus menurun ia
menyarankan agar semua alat bantu dilepas saja. “maksudnya dok..?” aku menodong
penjelasan. “secara medis kondisi ibu sudah tidak dapat ditolong lagi, lebih
baik kita do’akan saja.” Aku benar-benar lemas mendengarnya seluruh badanku
gemetar merinding “benarkah tak ada lagi harapan.” Tiba-tiba aku merasakan
ketakutan yang luar biasa. Aku tak mau menyerah, aku meminta agar semua alat
bantu itu tetap terpasang pada tubuh istriku, sambil menunggu keputusan team
dokter besok pagi.
“Aku tak mau kehilanganmu bunda.” Ku
pegang kuat jemarinya, “buka matamu bunda sebentar saja, ayah ingin menatap
mata bening bunda untuk terakhir kalinya,” kubisikan lembut ditelinganya.
Pukul 22, aku disodori surat pernyataan,
tak sempat aku baca, kata suster ini adalah Surat persetujuan untuk melepas
semua alat bantu dari tubuh istriku. “Tak sanggup aku melakukan ini bun, aku
ingin tetap menatap wajahmu, aku ingin tetap mendampingimu meski dalam
ketidakberdayaanmu.”
Akhirnya adikku yang menandatanganinya.
Aku tak ingin selalu dihinggapi rasa bersalah jika menandatangani surat itu.
Kemudian semua alat bantu dilepas dari tubuh istriku, tinggal tersisa alat
pendeteksi detak jantung.
“Bun…..inilah yang terbaik yang diberikan
Allah buat kita, maafkan ayah bun ayah tak bisa menjaga bunda. Ayah ikhlas
bunda pergi, ayah terima semua dengan ihklas bun.. Jangan khawatir bun, ayah
akan menjaga dan merawat anak-anak kita,” kubisikan lirih ditelinga istriku.
Kutemui Lia yang menunggu diluar ruang
ICU, kubelai rambutnya penuh sayang. Ia menangis keras sejadi-jadinya, mungkin
ia paham apa yang kumaksudkan. “Bundaa….. Lia ga mau kehilangan bunda, jangan
tinggalin lia bundaa..!!” Tangisnya memekik, merebut perhatian semua orang
diruang tunggu ICU ini. Semua mata menatap kami tapi mereka diam seolah mahfum
dengan keadaan kami.
Dalam setiap rangkaian doaku tak pernah
aku mengucapkan kata-kata menyerah “kalo memang hendak Engkau ambil maka
mudahkan,” tak pernah aku menyebut kata-kata itu. Aku selalu minta kesembuhan,
kesembuhan karena aku memang menginginkan istriku benar-benar sembuh.
Sepertinya kini aku harus menyerah dan
pasrah “Ya.. Robb jika memang Engkau menentukan jalan lain aku ikhlas ya
Allah…., mudahkan jalan istriku untuk menghadapmu dengan khusnul khootimah.”
Menurut suster dalam kondisi seperti ini
pasien masih bisa mendengar. Kubimbing istriku menyebut kalimat “LAAILAHA
ILLALLAH MUHAMMADUR ROSULULLAH..” perlahan aku membimbingnya. Rasanya aku
mengerti betul setiap helaan nafasnya, raga kami bagai menyatu. Kuulang hingga
berkali-kali dengan helaan nafas yang terirama pelan. Dua bulir bening
tersembul dari sudut matanya. Aku merasakan ia sanggup mengikuti kalimat ini,
terimakasih ya Allah..!
Aku terbangun ketika tiba-tiba seorang
suster memanggil “Keluarga ibu Siti Nurhayati..!” Aku bergegas masuk ke ruang
ICU, jam menunjuk Pukul 05.05, masih pagi dengan hawa dingin yang menyusup
tulang. “Ma’af pak, ibu sudah tidak ada.” ujar suster tadi singkat. Meski aku
tau maksudnya tapi aku masih tak percaya. Kutengok layar monitor yang terhubung
ketubuh istriku. Tak ada lagi yang bergerak disana.
Bagai tersambar petir, kudekap tubuh lemas
istriku. Bibirnya menoreh segaris senyum. “INNA LILLAAHI WAINNA ILAIHI
ROOJIUUN.” Aku lunglai terduduk disampingnya tapi tak ada lagi air mata yang
keluar. “Bun, Ayah ikhlas melepas bunda, Allah telah memilihkan jalan terbaik
buat kita.”
Selamat Jalan Istriku…… jemput aku dan
anak-anak nanti di pintu SurgaNya.
Semoga bermanfaat bagi yang membacanya ….
Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat …
… Semoga tulisan ini dapat membuka pintu
hati kita yang telah lama terkunci …
Sumber
: http://pelangi-mus-lim.blogspot.co.id

