Tiba-tiba mataku jadi gelap, sebuah beban
berat serasa menindih badanku. Aku diam dan tak bisa berkata apa-apa, lama aku
terdiam.
“Kanker..?” tanyaku,
tapi kalimat itu tak mampu terucap hanya
bersarang di kepalaku. Sebuah penyakit yang selama ini hanya aku kenal lewat
informasi dan berita-berita, kini penyakit itupun menghampiri orang terdekatku
orang yang paling aku sayangi. Penyakit yang menakutkan itu menyerang istriku.
Kutatap wajah cantik istriku yang dibalut
jilbab favoritnya, tenang.. teduh… tak ada ekspresi apa-apa aku makin bingung.
“duhh…bunda apa yang ada dalam fikiranmu
bunda…”
“Sekarang bapak ke RSCM ke bagian
Radiologi kita harus bertindak cepat,”
tiba-tiba aku tersadar. Segera kuambil
surat pengantar dokter dan menuju RSCM.
Sungguh tak pernah terpikirkan sedikitpun
sebelumnya, kini kami berada dalam deretan orang-orang penderita kanker di
ruang tunggu spesialis Radiologi ini. Aroma kecemasan bahkan keputus asaan
tergambar di wajah mereka. Sebenarnya ini juga saya rasakan, tapi saya harus
menyembunyikan raut ini di hadapan istriku. Aku harus tetap menyuguhkan energi
penyemangat padanya.
Dihadapan dokter Radiologi aku bertanya,
“sebenarnya istriku kena kanker apa dok?”
“kanker nasofaring.” jawab dokter singkat.
Ya Allah….kanker apa lagi ini? Istilahnya
saja aneh bagiku. Kenapa harus istriku yang mengalaminya?
“Tapi Insya Allah masih bisa disembuhkan
dengan pengobatan sinar radiasi dan kemoterapy,” dokter mencoba menangkap
kegalauan diwajahku.
“Nanti ibu harus menjalani pengobatan
radiasi selama 25 kali.”
Terbayang beratnya derita dan kelelahan
yang harus dialami istriku. Belum lagi dengan kombinasi pengobatan kemoterapy
yang melemahkan fisik. Keluar dari ruang radiologi seolah semuanya jadi gelap,
rasanya aku tak kuat menahan segala beban ini. Segera aku sms family dan
teman-teman dekatku, aku kabarkan keadaan istriku dan kumintakan do’a dari
mereka. Tak terasa bulir-bulir bening air mata bermunculan disudut mataku.
“Ayah kenapa? nangis yach..?” dengan polos
pertanyaan itu keluar dari bibir istriku.
“iya, ayah sayaaang…. sama bunda,” suaraku
gemetar.
Ku usap lembut kepala istriku. Ku tepis
perlahan tangannya yang mencoba mengusap air mataku, ku gengggam kuat jari-jari
lemahnya. Hatiku berbisik “kenapa tak ada kesedihan diwajahmu bunda? apakah
bunda ga tau penyakit ini begitu berbahaya? Atau Allah telah memberitahukan ini
semua kepadamu?”
“Bunda biasa ajah koq..” Jawabanya malah
makin membuatku tak bisa bernafas, air mataku akhirnya jatuh juga.
Kususuri lorong-lorong RSCM dengan langkah
lemas tak bertenaga seolah aku melayang, tulang-tulang terasa tak mampu
menyangga badanku yang kecil ini.
Mulai hari itu istriku harus dirawat inap
di RS. Proklamasi. Semua persiapanpun dilakukan mulai dari USG, Bond Scan dll.
Hasilnya rahim masih bersih dan tulangpun normal artinya kankernya belum
mejalar ke bagian lain, Alhamdulillah…sempat kuucap kata syukur itu.
Hari ke empat. Sore itu aku dipanggil ke
ruang Dokter Sugiono yang akan melakukan Kemoterapy. Dikatakan bahwa kanker
istriku stadium 2A dan Insya Allah masih bisa diobati. Istrikupun siap untuk
menjalani pengobatan dengan kemoterapy. Kemudian kami minta ijin ke Dokter
untuk diperbolehkan pulang sambil mempersiapkan segala sesuatunya.
Malam hari ketika kami di rumah, kami
minta pendapat dari pihak keluarga tentang pengobatan yang akan kami lakukan.
Dengan berbagai pertimbangan dan alasan pihak keluarga menyarankan agar kami
tidak menempuh jalan kemo dan radiasi. Kami disarankan untuk menjalani
pengobatan dengan cara alternatif dan pengobatan herbal.
Akhirnya sejak saat itu kami melakukan
ikhtiar pegobatan dengan cara alternatif dan minum obat-obat herbal. Karena
saat itu istriku sudah susah untuk menelan maka obat herbal yang diberikan
tidak berupa kapsul, melainkan berupa rebusan. Setiap hari istriku harus minum
ramuan dan rebusan obat-obat herbal yang baunya sangat menyengat. Tapi aku
lihat ia dengan telaten dan sabar rutin minum semua obat-obatan itu.
Semangatnya untuk sembuh begitu besar. Doa
pun tiada henti kupanjatkan siang dan malam. Dan malam-malamku selalu ku
habiskan dengan tahajud dan hajat. Aku mulai rajin mencari semua informasi yang
berhubungan dengan kanker nasofaring, mulai dari makanan, cara pengobatan,
bahkan alamat klinik pengobatan alternatif. Semua informasi aku cari melalui
internet, koran dan dari rekan-rekan kerja.
Tiga bulan pengobatan, tapi Allah
sepertinya belum memberi jalan kesembuhan dengan cara ini, akhirnya obat herbal
aku tinggalkan. Bahkan pengobatan alternatif sudah aku tinggalkan sejak 1 bulan
pertama karena aku ragu. Beberapa keluarga istri mulai putus asa. Malah ada
yang beranggapan penyakit ini adalah kiriman dari orang. Tapi aku bantah
semuanya,sempat ada pertentangan di antara kami. Aku yakinkan istriku bahwa ini
adalah memang ujian dari Allah,
“Bun..semuanya atas kehendak Allah, bahkan
jauh sebelum kita lahir sudah tertulis takdir ini, usia segini bunda sakit,
berobat kesini-sini itu semua sudah ada dalam catatan Allah bun. Yang penting
sekarang kita jangan lelah berihtiar dan bunda tetep harus semangat untuk
sembuh.” Ia mengangguk perlahan.

